Lance Armstrong vs Clint Dempsey: Satu Daerah Berbeda Wajah

Dua Amerika dalam wajah yang berbeda. Lance Armstrong dan Clint Dempsey. Satu balap sepeda, yang lain sepak bola.

Armstrong (41 tahun) adalah ikon sebuah semangat dan keteguhan berkompetisi melawan diri sendiri. Tujuh gelar juara balap sepeda Tour de France, ia genggam. Dunia memuji si filantropi yang identik dengan gelang karet bertuliskan ‘Livestrong‘. Ia menjadi pembicaraan dunia saat hadir di talk show Oprah Winfrey 2,5 jam, pekan lalu.

Sayangnya, Armstrong tidak sese-strong kampanyenya. Pembuktian bahwa ia melakukan doping untuk mendapatkan semua kehormatan di olahraga itu, sangatlah mengejutkan. Hasil penyelidikan selama bertahun-tahun Badan Anti Doping Amerika Serikat (USADA) membuktikan bahwa ia melakukan program doping paling canggih tersukses dalam dunia olahraga.

Di depan Oprah, Lance tetap membantah ia melakukan doping. “Ia tidak mengakui perbuatannya seperti yang saya duga,” kata Oprah kepada BBC.

USADA membuat laporan setebal 1000 halaman, hampir 21 kali lebih tebal dari Tabloid BOLA Edisi Kamis, Oktober 2012. Laporan itu adalah sintesis dari pengakuan 26 saksi di bawah sumpah, termasuk 15 pebalap setim di tim US Postal.

Organisasi balap sepeda dunia (UCI) segera mencabut semua gelar Lance sejak 1 Agustus 1998. Ia juga diminta mengembalikan medali perunggu Olimpiade Sydney 2000.

Wajah yang lain adalah Clint Dempsey. Dempsey membela Tottenham saat menghadapi raksasa Liga Inggris, Manchester United, 20 Januari lalu di White Hart Lane. Spurs tertinggal 0-1 sejak menit ke-25 oleh gol Robin Van Persie. Dibandingkan Van Persie, Dempsey bukanlah apa-apa. Ia hanyalah perantau sepakbola asal Amerika yang ingin terus eksis di liga Inggris.

Minggu malam itu, hujan salju memang sangat lebat. Pertandingan hampir pasti menjadi milik United sebab sudah memasuki menit ke-93 di masa injury time. Namun kaki Dempsey masih gagah berlarian mengejar umpan Aaron Lenon. Sebuah volley dengan timing tepat, lebih cepat dari tangkapan kiper De Gea.

Lance dan Dempsey sama-sama orang Texas. Dempsey dibesarkan di trailer park, sebuah tempat tinggal bergerak yang merupakan simbol ekonomi papan bawah Amerika. Sedangkan, Lance memiliki darah penjelajah benua dari sang kakek, yang merupakan imigran dari Norwegia. Keduanya sama-sama penjelajah, Dempsey dalam arti sebenarnya, Lance di aliran darahnya.

Perjalanan Hidup

Meskipun tergolong miskin, Dempsey menunjukkan semangat hebat sebagai pesepakbola. Dimana mobil berhenti, di situ Dempsey mengadu skill sepakbola. Kakak Clint, Ryan adalah pesepakbola berbakat, sementara kakak perempuannya, Jennifer adalah petenis berbakat. Tetangga dan kenalan keluarga Dempsey berusaha membantu agar Jennifer menjadi petenis pro dan bisa membantu keuangan keluarga.

Clint sendiri, menyita perhatian tim sepakbola Dallas Texans saat juggling di pinggir latihan, saat menonton sang kakak yang menjadi pemain Texans. Jennifer meninggal pada usia 16 tahun akibat brain aneurysms. (Tahukah Anda, menurut situs http://www.brainaneurysm.com, bahwa 10-15% yang terkena brain aneurysms akan meninggal sebelum sampai ke rumah sakit. 50% juga meninggal pada 30 hari pertama begitu terserang).

Clint memutuskan serius bermain sepakbola untuk menghormati sang kakak. Saat kuliah di universitas Furman, ia membekali diri dengan mengambil jurusan Kesehatan dan Latihan. Ia sangat memuja Diego Maradona dan ingin memiliki teknik sehebat Maradona. Perjalanan hidup sebagai orang populis, mengantarkan Clint menjadi penggemar olahraga beregu (team game).

Jika Clint dibesarkan dalam keluarga olahraga, sebaliknya dengan Lance. Lance harus menerima kepahitan perpecahan keluarga setelah ayah dan ibunya bercerai saat umurnya 2 tahun. Ayah kandung Lance, Eddie Charles Gunderson, seorang manajer di koran the Dallas Morning News, ternyata memiliki selingkuhan dan memiliki dua anak. Sejak itu, Lance tak mau berjumpa dengan ayah kandungnya.

Lance adalah perenang jarak menengah (1.500 m) dimana prestasi terbaiknya adalah peringkat keempat se-Texas. Ia berubah haluan saat melihat poster triatlon Iron Kids, yang akhirnya ia menangi dalam usia 13 tahun. Lance muda pun makin erat dengan triatlon dan berprestasi tinggi.

Lance adalah pelaku olahraga individual. Ia tahu, untuk menjadi yang terbaik sangat tergantung pada diri sendiri. Ia juga juga tahu bahwa kanker testis stadium 3 yang didiagnosis pada 2 Oktober 1996 akan menghentikan kariernya.

Sebelum kemoterapi dan operasi akan mematikan kemampuan reproduksinya, Lance menyimpan sperma di sebuah bank sperma. Meskipun menikah pada 1 Mei 1998 dengan Kristin Richard, setelah menjalani kemoterapi dan operasi, Lance tetap memiliki keturunan lewat bank sperma itu. Tiga anak Lance adalah Luke David (lahir 1999), dan si kembar Isabelle Rose-Grace Elisabeth (2001). Lance dan Kristin bercerai pada 2003.

Sebab Akibat

Dempsey adalah pesepakbola termahal AS di Liga Inggris saat ini. Saat ditransfer dari Fulham ke Tottenham, kontrak senilai US$ 22,2 juta untuk tiga tahun ia peroleh. Sebelumnya, gaji termahal pesepakbola AS tertinggi dimiliki kiper Brad Friedel senilai US$ 6,59 juta.

Lance? Ia kini berada di titik terbawah untuk urusan pendapatan.

Larangan berlomba seumur hidup mematikan pendapatannya dari olahraga. Ia bahwa mendapat tuntutan 1 juta pound dari harian Sunday Times, yang pernah membayar denda 300 ribu pound pada tahun 2004. Saat itu, Sunday Times menuduh Lance melakukan kecurangan, namun pengadilan mengalahkan Sunday Times dan mewajibkan membayar denda.

Meski berada di titik terbawah, Lance memiliki rumah di Austin (TX) dan Aspen (Colorado). Ia juga memiliki peternakan di Texas Hill Country.

Kita bisa belajar banyak dari ‘wajah’ Dempsey dan Armstrong. Seperti yang disampaikan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) dalam buku “Learning: the Treasure Within (1996)”, ada empat pilar pendidikan yakni belajar untuk mengetahui, belajar untuk berbuat, belajar untuk hidup dengan orang lain, dan belajar untuk menjadi seseorang.

Kekuatan keluarga menjadi elemen penting menjadikan seorang Clint Dempsey menjadi pesepakbola termahal AS di Liga Inggris. Dempsey melakukan empat pilar itu untuk menjadi ‘seseorang’ yang sportif, pekerja keras, sekaligus tak mudah menyerah.

Kelemahan keluarga menjadi titik krusial Lance Armstrong sehingga dia berani mengambil keputusan ‘berbohong’ kepada masyarakat lewat doping sistemik.

Apakah Lance salah? Tak sepenuhnya. Kondisi keluarga dan memori buruk yang ia rasakan sejak usia 2 tahun menjadi faktor penting keputusan ‘bodoh’ Lance melakukan doping sistemik.

Dalam kacamata saya, si penemu doping sistemik adalah sosok paling bersalah dalam kasus Lance Armstrong. Tak akan ada kebakaran jika tiada api, tak akan ada kebanjiran jika tiada air berlebih. (twitter: @ekowidodo9)

Leave a comment

Filed under My Opinion

Investigasi Kualitatif terhadap Karakteristik dan Efek Musik saat Latihan

Penelitian dilakukan David-Lee Priest dan Costas I. Karageorghis (2008) dari Universitas Brunel, Inggris. Penelitian bertujuan mengidentifikasi kegunaan musik saat melakukan latihan olah raga. Pendekatan yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif.

Pertanyaaan semi terstruktur diberikan kepada responden (N) sebanyak 13 orang, 7 pria 6 wanita. Masing-masing responden setidaknya sudah menggunakan musik untuk mendampingi latihan selama 2 tahun. Analisis content dilakukan terhadap hasil wawancara disesuaikan dengan konsep model yang dibuat Karageorghis et al. (1999) yang mendeskripsikan  efek musik dan budaya dalam tujuan psychophysical .

konsep

Hasil penemuan menunjukkan pentingnya musik ( rhythm, lyrics, bass), contextual ( time of day), dan faktor individual factors (e.g. background, personality) dalam menghasilkan hasil jangka pendek (mood, imagery) dan jangka panjang (heightened work-rate, endurance).

Leave a comment

Filed under Resume Jurnal Penelitian

Sensor Keseimbangan dalam Olah Raga

Secara ilmiah, konsep keseimbangan dalam manusia bisa dijelaskan lewat koordinasi organ keseimbangan yang dikontrol oleh otak. Kita merasa menemukan ‘keseimbangan’ dalam gerak akibat instruksi yang diberikan otak. Informasi itu diperoleh otak dari beberapa komponen di dalam telinga.

Keseimbangan terdapat di bagian dalam telinga. Dari situs (http://id.wikipedia.org/wiki/Telinga) di bagian pendengaran terdapat potongan melintang koklea. Telinga dalam terdiri dari labirin osea (labirin tulang), sebuah rangkaian rongga pada tulang pelipis yang dilapisi periosteum yang berisi cairan perilimfe dan labirin membranasea, yang terletak lebih dalam dan memiliki cairan endolimfe.

telingaDi depan labirin terdapat koklea atau rumah siput. Penampang melintang koklea terdiri atas tiga bagian yaitu skala vestibuli, skala media, dan skala timpani. Bagian dasar dari skala vestibuli berhubungan dengan tulang sanggurdi melalui jendela berselaput yang disebut tingkap oval, sedangkan skala timpani berhubungan dengan telinga tengah melalui tingkap bulat.

Bagian atas skala media dibatasi oleh membran vestibularis atau membran Reissner dan sebelah bawah dibatasi oleh membran basilaris. Di atas membran basilaris terdapat organo corti yang berfungsi mengubah getaran suara menjadi impuls. Organo corti terdiri dari sel rambut dan sel penyokong. Di atas sel rambut terdapat membran tektorial yang terdiri dari gelatin yang lentur, sedangkan sel rambut akan dihubungkan dengan bagian otak dengan saraf vestibulokoklearis.

Selain bagian pendengaran, bagian telinga dalam terdapat indera keseimbangan. Bagian ini secara struktural terletak di belakang labirin yang membentuk struktur utrikulus dan sakulus serta tiga saluran setengah lingkaran atau kanalis semisirkularis. Kelima bagian ini berfungsi mengatur keseimbangan rubuh dan memiliki sel rambut yang akan dihubungkan dengan bagian keseimbangan dari saraf vestibulokoklearis.

Ketika kita kehilangan keseimbangan dan condong jatuh ke kanan, gravitasi bumi akan menarik granula/cairan-cairan halus ke arah kanan. Sel-sel rambut segera bereaksi dan mengirimkan sinyal ke otak bahwa Anda akan jatuh ke kanan. Segera otak meresponnya dengan mengirimkan perintah ke otot leher dan lengan agar mengembalikan kepala dan bagian badan yang lain ke posisi seimbang.

Begitulah cara kerja kerja sensor keseimbangan di dalam telinga bagian dalam.

Leave a comment

Filed under Sports Science, Tahukah Anda

Keseimbangan dalam Senam

Keseimbangan adalah faktor penting dalam olah raga senam, khususnya nomor balok keseimbangan. Bayangkanlah: di balok sepanjang 4,85 meter setinggi 1,67 m dari permukaan lantai, dan lebar hanya 10 cm, seorang pesenam putri harus melakukan gerakan flip, spin, dan berbagai manuver tanpa harus kehilangan keseimbangan.

Sebab keseimbangan berkorelasi dengan keindahan gerak, yang menjadi poin penilaian para juri. Sungguh memerlukan latihan bertahun-tahun agar di saat memanfaatkan momentum gerakan, seorang pesenam tetap tak kehilangan keindahannya.

Bagaimanakah cara melatih keseimbangan sejak dini:

1. Ambillah papan kayu, atau kayu apapun yang memiliki permukaan rata dan berbentuk balok. Yakinkan bahwa permukaan kayu halus sehingga telapak kaki anak tidak akan terluka.

2. Mintalah anak berjalan dari ujung ke ujung tanpa terjatuh. Jika masih tidak seimbang, latihlah terus menerus. Anak akan semakin tertantang jika ia diberikan tantangan. Jika sudah lancar, tantanglah dia dengan menggunakan stop watch, seberapa cepat menyelesaikan perjalanan dari ujung ke ujung.

3. Jika tak ditemukan kayu, latihan bisa dilakukan di bangunan pembatas jalan/taman. Namun biasanya permukaannya cukup tinggi. Bimbinglah dulu tangan anak agar tak terjatuh. Perlahan-lahan lepaskan tangan dan biarkan si anak menitinya.

Leave a comment

Filed under Sports Science, Tahukah Anda

Tahukah Anda: Pengambilan Keputusan Hanya 0,2 detik

Sekarang sedang berlangsung final Major League Baseball (MLB) antara Tampay Bay Rays vs Philadelphia Phillies. Selain catcher, peran penting dalam permainan bisbol ditentukan oleh kehebatan pitcher. Kemampuan pitcher membuat strike out adalah faktor penting dalam mencetak kemenangan demi kemenangan.

Seorang pelempar (pitcher) dapat melempar bola dengan kecepatan antara 144 hingga 160 km per jam. Bola seberat 142 gram melayang secepat 144 km/jam akan memberikan tantangan bagi pemukul (batter) untuk mengambil keputusan apakah memukul dengan full power, melakukan sacrifice foul, maupun melakukan swing.

Dari tangan pitcher sampai ke plate tempat pemukul berdiri, bola akan menempuh waktu 0,46 hingga 0,41 detik. Rata-rata reflek seorang pemukul dari posisi diam hingga bereaksi terhadap titik datang bola di plate 0,3 detik. Jadi, hanya tersisa 0,1 hingga 0,2 detik bagi seorang pemukul untuk memutuskan kapan memukul, mengarahkan bola, dan memberikan pesan kepada otot-otot tangan dan kaki agar bola berhasil dipukul.

Jadi, dapatkah Anda bayangkan betapa hebat reaksi manusia!

Sumber: Sports Science

Leave a comment

Filed under Sports Science, Tahukah Anda

ABG = Ah, Bukan (Urusan) Gue

Olahraga, turisme, dan budaya adalah trisula sumber pemasukan negara nonmigas. Paling tidak itulah kesimpulan jika Anda menyempatkan membaca buku The Sport Studies Reader, yang diedit Alan Tomlison. Dalam buku itu, peneliti-peneliti olahraga kelas dunia memaparkan riset mereka yang menegaskan bahwa pembangunan olahraga secara benar akan berkorelasi positif dengan kemajuan olahraga sebuah negara, peningkatan turisme, dan pengembangan budaya.

Di Asia, Cina sudah melaju cepat dan sukses membuktikan hipotesis itu. Lebih mengerucut, tiga negara di Asia Tenggara tengah bertempur agar bisa panen uang dari trisula OTB (olahraga-turisme-budaya). Tiga negara yang saya maksud adalah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Mereka sudah berpikir sangat maju.

Bangkok yang macet adalah masa lalu. Mereka sadar bahwa pariwisata akan maju jika transportasi publik memuaskan. Sekarang Bangkok dan kota-kota satelitnya memiliki sarana transportasi publik yang kian membaik. Laju pemasukan dari sektor pariwisata pun meningkat.

Sementara itu, saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa bagus transportasi publik di Kuala Lumpur dan Singapura. Saat pergelaran F1 Night Race di Singapura dua pekan lalu, betapa para kru tim-tim F1 yang keluyuran naik MRT memuji sarana transportasi umum di Singapura.

“Citra sebuah kota dilambangkan dengan kemampuan menggelar event olahraga internasional sebab otomatis turisme dan budaya akan ikut di sebuah pergelaran pesta olahraga internasional,” kata David Whitson dan Donald Macintosh dalam jurnal penelitian bertajuk The Global Circus: International Sport, Tourism, and The Marketing of Cities.

Jadi, berbahagialah pemilik kota Beijing, Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok, yang pernah menggelar event olahraga internasional. “Mereka bisa membuat komoditas yang dijadikan tontonan dan laris dibeli orang,” kata Guy Debord, yang menulis topik The Commodity as Spectacle.

Proyek Prestise?
Di depan mata, di Tanah Air, ada event internasional Asian Beach Games (ABG), pesta olahraga pantai Asia pertama. Sebagai pergelaran pertama, semestinya didukung sebab kalau sukses kan Indonesia juga yang dapat nama. Kalau buruk, kita juga yang dapat malu.

Namun, masalahnya urat malu itu tambah hari kian menjauh dari budaya bangsa Indonesia, yang katanya adiluhung itu. Semua bergerak demi kepentingan sendiri. Terus terang, saya tak yakin tak ada kepentingan pribadi di balik pergelaran ABG itu.

Pemilihan Bali sebagai tuan rumah adalah pencitraan yang positif dan tepat. Masalahnya menggelar ajang multicabang itu tak sekadar menyulap pantai menjadi arena pertandingan lho, tapi juga pembangunan infrastruktur.

Setelah membangun infrastruktur, sosialisasi perlu dilakukan agar masyarakat peduli. Tahukah Anda saat pergelaran F1 Night Race sebuah koran komplet yang berisi segalanya tentang balapan F1 dibagikan gratis kepada siapa pun yang ada di Singapura!

Bagaimana dengan ABG? Apakah daerah-daerah yang memiliki potensi pantai tak kalah indah dengan Bali akan antusias menyambutnya? Rasanya kok tidak. Masyarakat pun rasanya juga tak akan terlalu antusias menyambut ABG.

Di berbagai kesempatan, budaya instan benar-benar sudah merasuki kita. Untuk event ABG, yang masih asing, usaha pengenalan kepada masyarakat terbilang kurang. Yang lebih menyedihkan, last minutes event itu masih kekurangan dana. Proyeksi bisnis ABG ketika Indonesia menerima mandat sebagai tuan rumah pada 2005 seusai pertemuan Guangzhou ternyata tak canggih!

“Sponsor itu sama seperti atlet. Mereka perlu latihan yang benar, nutrisi memadai, fasilitas latihan, dan juga proyeksi kekuatan lawan. Jadi, agar sponsor meminati dan berkenan datang, harus ada keseriusan dan perencanaan matang untuk memuaskan sponsor potensial,” demikian kesimpulan Lisa Delphy, Ph.D. dalam artikelnya Sport Tourism and Corporate Sponsorship: A Winning Combination.

Jadi, mau dikemanakan ABG? Karena sudah telanjur bersedia menjadi tuan rumah, biarkanlah tamu menikmati hidangan yang disiapkan. Yang terpenting lagi, sanggupkah pariwisata dan budaya Bali menghasilkan Rp 300 miliar untuk sekadar break event point (BEP)? Jangan-jangan jawabannya juga ABG, ah, bukan (urusan) gue….

Leave a comment

Filed under Artikel BOLA

Peran Vital Mata dalam Olahraga – Happy Surprise, Your Future Will Rise

Pendahuluan
Mata adalah jendela hati. Lewat mata segala keindahan bisa dinikmati. Lewat mata bisa diketahui suasana hati, entah sedang gundah atau riang gembira.

Mata kita amat peka terhadap benda atau polusi lingkungan. Seringkali kita membiarkan mata menjadi lelah, terkena sinar matahari secara langsung, dan kadang membersihkannya menggunakan sembarang air sehingga mudah terinfeksi. Penggunaan obat-obatan secara serampangan juga dapat memperparah infeksi mata.

Saat terserang kotoran atau benda asing, mata melakukan refleks pertahanan dengan berkedip. Selain berkedip, mata pun melakukan mekanisme perlindungan terhadap benda asing dari luar dengan cara memproduksi cairan di sekitar bola mata melalui kelenjar mata. Berkedip juga merupakan cara pertahanan agar tetap segar dan tidak cepat lelah.

Apakah olahraga itu? Olahraga berasal dari bahasa Inggris Kuno, disportate, yang berarti bersenang-senang atau mengisi waktu luang bagi para kaum ningrat Inggris. Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 3 tahun 2005 mengenai Sistem Keolahragaan Nasional didefinisikan bahwa olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial.

Dalam GBHN, peran dan fungsi olahraga dalam tata masyarakat Indonesia sudah jelas, yaitu pertama, olahraga merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia yaitu mencakup jasmani, mental, dan rohani. Olahraga juga ditujukan untuk pembentukan watak dan kepribadian, disiplin, dan sportivitas yang tinggi serta peningkatan prestasi yang dapat membangkitkan rasa kebanggaan nasional.

Apa hubungan antara mata dengan olahraga? Subjek dalam olahraga prestasi adalah atlet. Agar dapat mengembangkan potensi jasmaninya guna mendapatkan prestasi maksimal, atlet mutlak harus memiliki kondisi fisik dan jasmani yang prima, salah satunya adalah mata.

Ada cabang olahraga yang sangat mengandalkan ketajaman mata yakni bulutangkis, tenis meja, tenis lapangan, panahan, menembak, bola basket, dan bisbol. Dalam bulutangkis, dengan menggunakan mata yang tajam, seorang pebulutangkis bisa menganalisis arah bola yang dipukul lawan lewat gerakan bahu, ayunan tangan, hingga pergelangan tangan. Di tenis meja, bentuk pukulan dari bet lawan bisa dari sudut pegangan tangan maupun dari sudut kontak antara bet dengan bola. Pergerakan bola yang sangat cepat dalam ping pong memerlukan ketajaman mata yang prima.

Peran Mata di Olahraga
Mata adalah bagian penting dalam olahraga. Agar bisa sukses, seorang atlet mesti bisa memaksimalkan kemampuan visualnya (visual skill) untuk ekstraksi berbagai informasi dari objek, tempat, dan event pertandingan. Dalam sebuah pertandingan, seusai menerima respons di retina, seorang atlet mesti segera mengambil keputusan atau tindakan. Seorang bek dalam sepakbola misalnya. Ia mesti segera memutuskan apakah akan mengejar lawan, melakukan tekel, ataukah minta bantuan teman terdekat ketika lawan berhasil merebut bola darinya.

Keterampilan visual (visual skill) atlet meliputi acuity, akomodasi mata, central field awareness, peripheral field awareness, daya jelajah mata (eye tracking), kedalaman persepsi (depth perception), koordinasi mata-tangan-kaki, visualisasi, dan memori visual (Zumerchik, 1997). Untuk acuity, dua hal yang terpenting adalah kemampuan mata mendeteksi benda diam (static) maupun benda yang bergerak (dynamic). Keterampilan ini juga berhubungan dengan reaksi mata.

Kemampuan akomodasi mata dalam olahraga adalah kecepatan mengubah fokus dari objek yang satu kepada objek yang lain. Central field awareness adalah kemampuan melihat benda yang ada di depan mata. Kemampuan ini diperlukan oleh seorang petenis dan seorang shooter dalam bola basket. Peripheral field awareness adalah kemampuan melihat di luar sudut mata. Seorang playmaker dalam bola basket biasanya memiliki kemampuan ini sehingga ia bisa melihat posisi rekannya meskipun berada tidak dalam radius sudut mata.

Daya jelajah mata (eye tracking) adalah kemampuan mengikuti objek yang bergerak cepat. Dalam olahraga tenis dan tenis meja, kemampuan jelajah mata yang tinggi akan memudahkannya membaca gerakan bola lawan dan bisa mengantisipasi pengembaliannya (returning).

Olahraga adalah salah satu aktivitas fisik dan rekreasi terpopuler di seluruh dunia. Namun, olahraga juga mencatat sebagai salah satu penyebab terbanyak terjadinya cedera mata. Cabang olahraga yang memiliki peringkat tertinggi terjadinya cedera adalah bola basket, olahraga air (water sports), bisbol, dan olahraga menggunakan raket.

Simaklah data ini. Di Amerika, dalam setahun terjadi kunjungan ke ahli mata sebanyak 100.000 kasus dengan total biaya mencapai US$ 175 juta atau sekitar Rp 1,61 triliun (Napier et. al., 1996).

Napier et. al. dalam kesimpulan penelitiannya juga mengatakan bahwa penyebab terbanyak cedera mata adalah tergores (abrasion) dan luka memar (contusion). Ada tiga klasifikasi dalam olahraga yang berpotensi menyebabkan cedera yakni risiko rendah, risiko tinggi, dan risiko sangat tinggi (very high risk). Rodriguez et. al. (2003) menyebutkan bahwa penyebab cedera mata adalah akibat benda tumpul (blunt), tusukan benda tajam (penetrating), dan radiasi (radiation injuries).

Contoh blunt trauma adalah bisbol. Pemukul (batter) berhasil membuat pukulan (hit) di mana lintasan bola mengarah ke muka dan atlet yang bersangkutan tidak sempat menghindarkan bola sehingga terkena mata. Cedera yang timbul akibat trauma ini adalah memar di sekitar mata yang diistilahkan black eye dan retak tulang di sekitar mata. Ancaman yang ditimbulkan adalah kehilangan penglihatan secara permanen.

Berolahraga di salju berpeluang terjadi radiation injuries yang sering disebut dengan buta salju (snow blindness). The University of Maryland School of Medicine mengategorikannya sebagai mata yang terbakar matahari (eye sunburn) dimana sinar matahari yang terlalu kuat diterima di bagian kornea. Konsekuensi yang ditimbulkan adalah kerusakan mata maupun penurunan penglihatan.

Sementara itu, penetrating injury terjadi ketika benda tajam langsung menyentuh mata. Di olahraga rugbi, sepakbola, bola basket, dan beladiri, cedera seperti ini sering terjadi. Ancaman yang ditimbulkan juga bermacam-macam mulai dari penurunan penglihatan hingga kebutaan.
Dari data The United States Eye Injury Registry for 1988-2000, 40% terjadinya cedera mata terbanyak terjadi di rumah (40%). Tiga tempat yang sering menyebabkan terjadinya cedera mata adalah di pabrik-pabrik, jalan raya, dan olahraga, masing-masing dengan persentase 13%. Penyebabnya 31% benda tumpul, 18% benda tajam, dan 9% tabrakan motor.

Selain faktor dari luar, cedera mata juga bisa disebabkan karena faktor dari dalam (intrinsik). Penggemar sepakbola internasional pasti mengenal Edgar Davids. Mantan bintang Juventus yang kini bermain untuk Ajax Amsterdam (Belanda) ini memiliki ciri khas pekerja keras, pantang menyerah, dan berkacamata di setiap pertandingan. Kacamata menjadi bagian penting bagi karier Davids sebab ia menderita penyakit mata glaukoma akut.

Glaukoma akut yang diderita Davids adalah terjadinya bular hijau pada mata karena cairan bening kornea dan lensa mata tertahan sehingga ia harus menjalani operasi di kedua matanya. Inilah sebabnya Davids memerlukan kacamata sebagai pelindung dari kotoran dan gangguan eksternal. FIFA, induk organisasi sepakbola internasional memberikan izin asalkan alat itu berbahan plastik dan tidak membahayakan atlet lain.

Alat Pelindung
American Academy of Pediatrics dan American Adacemy of Ophthalmology merekomendasikan bahwa pelindung mata harus digunakan, terutama di olahraga yang berpeluang menimbulkan cedera. Pelindung wajib dipakai bagi atlet yang pernah dioperasi atau mengalami trauma. Peran orangtua juga penting saat memilih alat pelindung yang memenuhi syarat. Pelatih juga berperan dalam mengajarkan bagaimana mencegah cedera mata, baik di pertandingan maupun latihan.

Napier et. al. (1996) mengatakan bahwa ada dua jenis pelindung mata yang sering digunakan dan memenuhi standar. Pertama, kacamata yang memenuhi standar ASTM (American Society of Testing and Materials) F803 untuk cabang olahraga seperti olahraga raket, bisbol, basket, lacrosse, dan hoki lapangan. Kedua, helm dan pelindung mata yang memenuhi standar ASTM F910 untuk pemukul dan penjaga base di bisbol.ASTM standar 1776 untuk paintball, ASTM standar 659 untuk ski es, dan ASTM standar F513 untuk hoki es.

Pelindung mata disarankan terbuat dari bahan polikarbonat. Tidak disarankan untuk memakai kacamata fashion, kacamata, maupun sunglasses normal saat berolahraga.

Cegah Lewat Pengetahuan
Ancaman cedera mata bisa dicegah lewat pencegahan. Atlet sebaiknya diajari bagaimana melindungi mata dari kemungkinan cedera akibat latihan maupun pertandingan. Atlet pun mesti memahami penggunakan pelindung kulit muka atau produk kosmetika lain yang berpeluang menyebabkan cedera.

Tiga puluh persen cedera mata pada anak-anak di bawah 16 tahun berhubungan dengan aktivitas olahraga. Olahraga yang paling banyak menyebabkan cedera adalah bola basket, olahraga air, bisbol, dan olahraga menggunakan raket (tenis,bulutangkis, skuas). Pada anak-anak usia 5-14 tahun, cabang olahraga yang paling banyak menyebabkan cedera adalah bisbol. Untuk usia 15-64 tahun, cabang olahraga yang dominan menyebabkan cedera mata adalah bola basket (Rodriguez et. al., 2003:2).

Hal penting yang harus dipahami oleh seorang atlet adalah melatih koordinasi antara mata dan tangan (eye-hand coordination). Latihan ini berguna untuk efektivitas tangan dan mata mengantisipasi gerakan bola, seperti reaksi tangan menangkap bola yang mengarah padanya. Latihan ini berhubungan dengan aktivitas motorik (motor skills) seseorang. Sejak dini, kemampuan motor skills harus dilatih.

Dalam tabel berikut dapat dibandingkan kecepatan antara peralatan olahraga dengan peluru seberat 16 pound (7,3 kg).

American Family Physician melaporkan pada 2002 bahwa 6,4% anak-anak di sekolah public memiliki kekakuan signifikan (significant clumsiness). Indikasi yang muncul adalah rendahkan koordinasi antara mata dengan tangan sehingga sering terjadi bola yang mengarah ke anak yang bersangkutan sulit diantisipasi dan ditangkap. Penelitian itu merekomendasi bahwa partisipasi aktif anak-anak di olahraga akan meningkatkan motor skills dan meningkatkan rasa percaya diri.

Keterampilan neomuskuler atau motorik adalah keterampilan yang dapat dipelajari untuk suatu kinerja yang efisien, konsisten, dan aman. Memahami dan memiliki sikap positif terhadap keterampilan motorik sangat membantu siswa membangun sifat kegemaran sepanjang hayat (lifelong) dalam aktivitas fisik, termasuk di dalamnya olahraga. Siswa perlu mengenal rentangan luas dari keterampilan motorik, memiliki waktu untuk belajar, berlatih, menghaluskan, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ia akan mendapatkan kegembiraan (happiness) yang diperoleh dengan menggunakan tubuhnya secara aman dan efisien.

Guru sebaiknya membuat siswa bisa memahami bagaimana keterampilan gerak diperoleh. Siswa, dalam aktivitas olahraga dan pendidikan jasmani, seharusnya menguasai tiga hal yang bisa menghindarkannya dari cedera, termasuk cedera mata, yakni dengan:
1.Menguasai keterampilan lokomotor dari berjalan, berlari, lompat, berjingkat, dan loncat.
2.Menguasai keterampilan non-lokomotor dari membungkuk, merentang, mengayun, dan berputar.
3.Menguasai keterampilan manipulasi dari memukul, menangkap, menendang, dan melempar.

Asosiasi Medis Amerika (The American Medical Association) mengklasifikasikan olahraga menjadi tiga jenis berdasarkan terjadinya kontak badan, yakni berbenturan frontal (collision), bersentuhan (contact), dan tanpa kontak badan. Cabang olahraga yang masuk kategori berbenturan frontal adalah american football, hoki es, dan lacrosse. Dalam olahraga kategori ini, pelindung mata mutlak diperlukan. Yang masuk kategori contact adalah bisbol, sepakbola, bola basket, dan gulat. Beberapa cabang olahraga tanpa kontak tubuh adalah renang, atletik, menembak, tenis, tenis meja, dan bulutangkis.

Klasifikasi lain yang dibuat adalah risiko rendah, risiko tinggi, dan risiko sangat tinggi (very high risk). Risiko rendah tak menggunakan bola, raket, stik, dll. dan tak ada kontak badan. Cabang olahraga yang masuk kategori ini adalah atletik, renang, senam, dan balap sepeda.

Olahraga dengan risiko tinggi (high risk) menggunakan bola, raket, puck, pemukul (bet), stik, maupun raket. Juga bisa terjadi kontak badan di cabang olahraga ini. Contoh cabang dengan high risk adalah bisbol, hoki es, sepakbola, basket, lacrosse, tenis, bulutangkis, dan polo air. Sedangkan olahraga very high risk terjadinya cedera mata adalah tinju, gulat, dan beladiri kontak langsung.

Semakin minim terjadi kontak tubuh, kemungkinan cedera mata semakin berkurang. Namun, olahraga raket seperti tenis dan bulutangkis memiliki perkecualian. Laju yang cepat dari bola tenis dan shuttlecock (bisa di atas 100 km/jam) berpeluang menyebabkan cedera mata jika si atlet tidak memiliki pengetahuan yang mendalam cara menghindari bola atau shuttlecock yang mengarah ke mata.

Kemampuan mata harus dilatih. (Zumerchik, 1997: 904) menyarankan empat hal yang harus dilakukan untuk melatih kemampuan visual mata, yakni:
1. Pertahankan efektivitas latihan. Buatlah level latihan sedemikian rupa sehingga meminimalkan rasa frustrasi seorang atlet.
2. Gunakan latihan penguatan yang positif. Latihan ini membuat atlet memahami bagaimana cara kerja sistem visual yang akan meningkatkan performanya.
3. Aturlah secara spesifik, namun fleksibel mengenai tujuan latihan sehingga atlet bisa menyesuaikan kemampuan yang dimiliki dengan target yang dibebankan.
4. Untuk memaintain konsentrasi atlet, pelatih fisik harus secara kontinu memberikan umpan balik (feed back).

Cara terbaik adalah mencegah terjadinya cedera mata lewat pemahaman berbagai hal seperti:
1. Jagalah mata saat berada di rumah, lapangan, maupun di mobil. Waspada terhadap barang-barang keras dan tajam yang ada di sekitar kita.
2. Membiasakan mencuci tangan setelah melakukan apa saja, apalagi seusai kontak dengan bahan-bahan kimia.
3. Menghindarkan mata dari debu dan secara teratur menggunakan obat tetes mata untuk menyegarkan mata.
4. Waspada terhadap kuku tangan, khususnya pada anak-anak balita.

Selain mencegah terjadinya cedera mata, perlu diperhatikan menjaga kesehatan mata antara lain dengan:
1. Sering mengedipkan mata untuk mengurangi ketegangan mata dan mencegah mata kering.
2. Cukup tidur, istirahat, dan relaksasi.
3. Gunakan kacamata jika pergi ke tempat dengan sinar matahari sangat terang.
4. Hindari tempat yang berdebu.
5. Makan makanan dan sayuran yang bergizi dan bagus untuk mata.
6. Cahaya yang cukup saat membaca.
7. Jangan mengucek langsung mata menggunakan tangan. Gunakan tisu atau kain halus yang cukup steril.
8. Gunakan obat tetes mata yang cocok dan hindari kontak langsung dengan matahari, AC, maupun asap rokok.
9. Tidak membiasakan membaca sambil tiduran

Kesimpulan
Mata adalah organ penting bagi atlet olahraga. Memiliki mata yang sehat dan skill di atas rata-rata berkorelasi dengan prestasi yang mengkilap. Namun, untuk mendapatkan prestasi mengkilap, diperlukan latihan yang keras, teratur, dan terprogram. Dalam fase persiapan dan pertandingan itulah kemungkinan terjadinya cedera mata besar.

Diperlukan pemahaman dan kemampuan motorik untuk bisa mencegah terjadinya cedera sedini mungkin. Saat cedera mata mendera, diperlukan alat bantu yang bisa mencegah terjadinya cedera setelah pemulihan.

Jika segala pencegahan cedera telah dilakukan maka kejutan kegembiraan akan datang. Happy surprise, your future will rise.



Daftar Pustaka
________. What is Eye Hand Coordination. http://vision.about.com/od/ sportsvisioncare/f/eyehand.htm

Ade Hikmatulah. 2006. Pentingnya Mata Sehat dan Alami. http://www.humanmedicine.net/

Ateng, Abdulkadir, Prof. 2003. Olahraga di Sekolah dalam buku Perkembangan Olahraga Terkini Kajian Para Pakar editor Prof Dr. H. Harsuki, MA. PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Baptiste, Andre P. 2003. Player with Glasses in Football. (http://www.andrebaptiste.com/dbarticles/2003/sept.html#sept2103b)

Bompa, Tudor O. 1999. Periodization: Theory and Methodology of Training. Human Kinetics, USA

Fortin, Francois. 2000. Sports: The Complete Visual Reference. Firely Books Ltd, Canada.

Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993-1998

Hutagalung, Weshley. Edgar Davids: Bukan Sekadar Troublemaker. Tabloid BOLA edisi Selasa 17 September 2002, halaman XX

It’s In Your Court: Prevent Sports-Related Eye Injuries. (http://uniteforsight/. org/eyesafety/)

Rodriguez, Jorge O., Lavina, Adrian M., Agarwal, Anita. 2003. Prevention and Treatment of Common Eye Injuries in Sports. Am Fam Physician 2003;67:1481-8,1494-6. Copyright© 2003 American Academy of Family Physicians

SM Napier, RS Baker, DG Sanford, M Easterbrook. 1996. Eye injuries in athletics and recreation. Surv Ophthalmol. 1996 Nov-Dec; 41(3):229-44

United States Eye Injury Registry. 2000. Eye Trauma Epidemiology and Prevention: “Place of Eye Injury” data slide. http://www.useironline.org/Prevention.htm

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Indonesia.

Zumerchik, John. 1997. Encyclopedia of Sports Science volume 2. Simon and Schuster MacMillan, New York, USA

2 Comments

Filed under My Opinion, Sports Science, Tahukah Anda