Kultur Olahraga dan Satu Komitmen

(Monday, October 1, 2007) Kultur Olahraga dan Satu Komitmen Masa lalu memang elok dikenang. Kita tahu bahwa di masa lalu, prestasi olahraga Indonesia memang cemerlang. Di ulang tahun ke-62 kemerdekaan Indonesia ini saya sedang mencari jawaban mengapa olahraga Indonesia yang di masa lalu cemerlang kini terjengkang?

Lewat penelusuran literatur di sebuah perpustakaan di Malaysia untuk keperluan penelitian disertasi, saya menemukan kajian ilmiah seorang doktor filosofi olahraga asal Inggris, Iain Adams. Adams menulis jurnal ”Peranan Pancasila dalam Pembangunan Olahraga di Indonesia antara Ambisi dan Rintangan”.

Dengan bahasa yang terstruktur, Adams mengkaji secara gamblang sila demi sila Pancasila dalam konteks kontribusinya ke pembangunan olahraga Indonesia. Adams tak asing dengan olahraga di Indonesia sebab ia pernah diminta World Bank membantu pengembangan kemampuan 10 guru pendidikan jasmani (penjas) Indonesia. Ia pun diminta membantu pembuatan kurikulum Penjas SMA beberapa waktu lalu.

Seorang pakar olahraga Indonesia sempat mencibir saat tahu saya berniat membedah kemajuan olahraga Malaysia, beberapa waktu lalu. ”Kok ke Malaysia? Malaysia itu dulu belajar dari kita dalam pengembangan olahraganya, lho,” ungkap pakar sepuh itu di sebuah acara pernikahan atlet basket nasional.

Hhm, saya dan si pakar memang berbeda kohort. Jaman dia, prestasi di SEAG kita lebih hebat dibandingkan Malaysia. Namun di jaman saya, Indonesia (mulai) tidak ada apa-apanya dibandingkan Malaysia. Mengapa demikian?

”Kuncinya adalah budaya olahraga (sport culture). Ketika budaya olahraga sudah menjadi bagian dari keseharian sebuah bangsa, ketika itulah prestasi olahraga akan otomatis maju,” ungkap Dato Sieh Kok Chi, tokoh senior olahraga Malaysia di kantor Olympic Council of Malaysia.

Belajar Sisi Gelap
Dalam skala lebih kecil, sebuah teladan bagus ditunjukkan Liga Bola Basket Malaysia (NBL). Direktur liga, Tan Kee Hian, secara intensif berdiskusi dengan saya bagaimana membuat liga basket yang ideal. Seingat saya, dalam lima tahun terakhir kami getol membahasnya, baik via e-mail, telepon, atau saat bertemu muka.

Dia selalu bertanya sisi buruk kegagalan IBL mengembangkan diri. Beberapa pertanyaannya: Mengapa ada kasus pinjaman 700 juta oleh Ary Sudarsono? Mengapa Agus Mauro dicopot? Mengapa konsep promotor dipaksakan? Mengapa cuma Aspac dan SM mendominasi liga? Mengapa pemain asing tak ada lagi?

Sebagai sarjana pemasaran lulusan universitas Indiana, otak bisnis Tan terus berputar. Ia pernah bekerja 2 tahun di Cleveland Cavaliers sebagai satu-satunya orang Asia di tim NBA asal state Ohio itu. Pengalaman, koneksi, dan referensi sisi gelap liga basket negara lain ia ramu menjadi konsep baru memajukan liga basket Malaysia.

”Saya tidak ingin hanya SM atau Aspac saja yang berpeluang menjadi juara liga. Pemain bagus tak boleh hanya di sebuah tim. Itu konsep saya mengatur liga NBL,” ungkap bapak dua anak ini.Maka ia blak-blakan menerangkan konsep draft NBL yang pertama kali dilaksanakan pas saya ke Kuala Lumpur pekan lalu. Dalam acara draft, ia mengundang dan menyeleksi pebasket asing yang kebetulan tengah studi atau sedang bekerja di Malaysia. Berbondong-bondong pebasket asal Filipina, Kamerun, Nigeria, dll mendaftarkan diri.

Secara fair, tim terlemah mendapatkan pemain terbaik. Chris Kuete (Kamerun), mahasiswa NILAI College akhirnya didraft Klang WCT Land. ”Tak ada pemain titipan (golden boy) di acara draft ini,” ledek Tan pada saya. Tim peringkat pertama Segamat Rimba Timor memutuskan tak memilih pemain asing demi meningkatkan persaingan antar tim.

Kepercayaan PenuhMenurut Tan, para pemilik klub menyerahkan kepercayaan penuh padanya mengurus liga. ”Mereka satu suara untuk kemajuan bersama. Tidak ada penumpukan pemain bagus di sebuah tim atau menang-menangan sendiri. One for all, all for one,” ungkap mantan kapten timnas Malaysia ini.

Pembaca, uang NBL tidak banyak, jauh lebih sedikit dari nominal sponsorship A Mild ke IBL. Oh ya, bayaran pemain asing itu berapa sih? Tak mahal hanya sedikit di atas UMR Jakarta. Kok mereka mau dibayar murah?

”Itu karena kultur olahraga yang kental di Malaysia. Para pemain asing senang bisa menjadi bagian NBL walaupun bayarannya tak besar. NBL pun bertoleransi tak mengganggu kuliah maupun pekerjaan mereka sebab pendidikan dan pekerjaan adalah modal berharga mereka,” ungkap Tan.

Jika konsep itu terus dilaksanakan dan tetap menjaga mindset, bukan tak mungkin NBL akan menyalip IBL dalam waktu dekat. ”Ah, kami tak secepat itu. Masih perlu waktu,” ungkap Kee merendah.

Pembaca, sempatkanlah sedikit waktu untuk membaca literatur bagus berjudul ”Healthy Bodies, Healthy Minds’: Sport and Society in Colonial Malaya” karya Janice N. Brownfoot. Percayalah, Malaysia juga belajar dari keberhasilan dan kegagalan Indonesia mempertahankan kejayaan di olahraga. Selamat ulang tahun kemerdekaan ke-62, Tanah Airku tercinta! eko@bolanews.com

Leave a comment

Filed under Artikel BOLA, My Opinion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s