Perkawinan Olah raga dan Pariwisata

Saat menuliskan ini di bulan Maret 2007 saya sedang berdingin-dingin ria di Moskow, ibukota Rusia. Kota yang indah ini masih diselimuti salju, meski tak tebal lagi. Ajakan dari mantan direktur IBL, Agus A. Mauro, ke Rusia sungguh berat ditolak, sebab sudah lama saya memimpikan bisa berfoto di depan Kremlin dan Lapangan Merah yang kesohor itu.

Waktu masuk kota Moskow dari bandara Sheremetyevo usai terbang 4 jam dari Tashkent Uzbekistan , saya melihat rombongan mobil tentara. “Ah mereka bukannya mau perang tapi mau ada pertandingan sepakbola,” ungkap Serghey, sopir mobil carteran.

Hhm, olahraga Rusia memang dikembangkan dalam suasana militer saat masih dalam rezim komunis. Dari buku Comparative Physical Education and Sports karangan Bruce L. Bennett dkk., klub menjadi inti pengembangan olahraga Sovyet saat itu. Kollektivs (klub) menjadi milik 36 organisasi olahraga amatir (sport societies) yang dinamai sesuai dengan bidangnya.

Sport societies itu antara lain Spartak (koperasi produksi), Dinamo (polisi rahasia), Burevestnik (mahasiswa), Locomotif (jawatan transportasi), dan Trud (buruh), yang ada di 15 negara anggota federasi Uni Sovyet. Nah, mobil tentara itu adalah rombongan tim sepakbola Dinamo Moskow.

Salah satu tujuan saya ke Moskow juga meliput Liga Basket Eropa (Euroleague). Ada dua tim Moskow yang tampil di babak 16 besar: CSKA dan Dinamo. Untuk yang Dinamo punya keistimewaan sebab mereka baru ikut Euroleague musim 2006/2007 namun sudah bisa langsung lolos ke babak 16 besar. Iklim olahraga kental sejak dulu membuat Dinamo Moskow bisa sukses seperti sekarang.

Promosikan Pariwisata

Pembaca, kalau di film-film mafia Rusia sangat dingin, sangat saya rasakan di sini. Rombongan dari Indonesia yang mengikuti event the Moscow International Travel & Tourism (MITT) 2007 harus bekerja ekstrakeras mengatasi segala kesulitan. Mulai dari susahnya pengeluaran kargo, hingga tenaga kerja pembuatan stand (booth).

Karena keterbatasan itulah, akhirnya kami pun bahu membahu menjadi tukang angkut, pembuat booth, tukang kayu, desainer, hingga penjaga stand. Itulah kesaktian orang Indonesia yang membuat saya geleng-geleng sendiri sebab semua dilakukan di bawah tekanan suhu dingin mendekati nol derajat! Misi yang dilakukan adalah memperkenalkan pariwisata Indonesia, khususnya pariwisata dan property di Bali.

Terus terang, saat pergi ke Tashkent, Uzbekistan, betapa saya membandingkan bahwa penggarapan pariwisata di Indonesia kurang maksimal. Padahal, dalam industri olahraga, seperti dipaparkan kandidat ketua KONI Pusat, Helmy Sungkar, sektor pariwisata adalah salah satu sisi koin penting.

“Kalau industri olahraga mau sukses, garap juga sektor pariwisata,” ungkap Helmy saat di kantor BOLA beberapa waktu lalu. Saat di Tashkent dan Moskow itulah saya setuju sekali dengan pendapat Helmy, yang intens menggeluti kepromotoran otomotif.

Pariwisata dan olahraga adalah dua sisi mata uang yang saling berkaitan, bahkan harus saling dikawinkan. eko@bolanews.com

Leave a comment

Filed under Artikel BOLA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s