Naluri Wanita dalam Olahraga

(Thursday, 13 Mei 2008) – Kepercayaan dan pengakuan. Ada dua wanita sebagai manajer dan wakil tim Piala Uber Indonesia, Susy Susanti dan Elizabeth Latief. Munculnya nama Susy dan Elizabeth adalah kepercayaan sekaligus pengakuan akan kesetaraan gender di bidang olahraga di Tanah Air.

Susy adalah wanita pertama dan satusatunya wanita perebut medali emas Olimpiade dari Indonesia. Ingatkah Anda medali pertama Indonesia dalam sejarah Olimpiade direbut oleh trio srikandi di Seoul: Nurfi triana, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani?

Ada makna tersirat dari kehadiran Susy. Para pemain Uber diharapkan bisa terpacu untuk meniru prestasi istri Alan Budikusuma ini. Hasil yang mujarab sebab Indonesia menundukkan Jepang, Minggu (11/5).

Dalam sejarah olahraga, semula wanita tak menjadi prioritas dalam pengembangan olah jasmani. Olahraga praktis identik dengan maskulinitas (Freeman, 2001). Jadi, wanita yang menekuni olahraga prestasi dianggap anomali. Wanita pertama kali tampil di Olimpiade tahun 1900 (Olimpiade ke-2) saat digelar di Paris dan terbatas di cabang golf dan tenis.

Dalam perkembangannya, peran wanita semakin besar dalam olahraga sejalan pemahaman hak asasi manusia dan kesetaraan gender. AS mengeluarkan akta title IX 1972 untuk menegaskan bahwa wanita sederajat dengan pria di olahraga.

”Sebelumnya kesempatan untuk wanita sangat terbatas. Persentase mereka tak sampai 40%. Bahkan liputan media tentang olahraga wanita hanya 10%,” kata Marj Snyder, Wakil CEO Women’s Sport Foundation, di Majalah SGB edisi Maret 2008.

Padahal sebenarnya wanita juga pasar potensial. Kermit Pemberton dalam bukunya Sports Marketing – The Money Side of Sports mengatakan bahwa wanita memiliki potensi pembelian (potensial buyer) bagi diri sendiri maupun anak. Pada tahun 1970, hanya 1 dari 27 wanita berolahraga, setelah 30 tahun kini ada 1 dari 3 wanita berolahraga di AS. Tiga olahraga paling diminati adalah bola voli, basket, dan sepakbola.

”Wanita jauh lebih bisa bekerja sama dalam olahraga permainan daripada pria yang individualistis,” ungkap John Wooden, pelatih basket universitas UCLA. Jangan abaikan juga potensi mereka sebagai penonton olahraga dari layar kaca. Dari survei yang dilakukan Sports Services of America, lebih dari 30% penonton NFL (american football), MLB (bisbol), dan NBA (basket) adalah wanita!

Lebih Loyal

Selain buyer potensial, wanita adalah brand loyalist. “Jika sebuah brand sudah menancap di benak mereka, kesetiaan wanita sangat tinggi,” tambah Pemberton. Kesetiaan itu pun akan diturunkan jika ia memiliki anak atau ditularkan pada komunitasnya jika ia belum berkeluarga.

Sayangnya potensi wanita di olahraga di Tanah Air belum digarap benar-benar. Sosok Rita Subowo sebagai Ketua Umum KONI/KOI menjadi bukti bahwa wanita pun bisa menjadi pemimpin olahraga nomor satu. Dalam kasus gesekan dengan Menegpora beberapa waktu lalu, lewat naluri kewanitaannya persoalan yang berpotensi tajam itu berhasil diselesaikan dengan aman.

“Wanita akan cenderung memberikan waktu dan menyalurkan energinya untuk orang lain. Ia pun akan lebih memilih memberikan cintanya untuk yang ia cintai, dalam hal ini olahraga, daripada memperpanjang konflik dengan orang lain,” papar Snyder.

Waktu berolahraga memang sangat mahal bagi wanita Indonesia saat ini, apalagi bagi mereka yang dobel job sebagai wanita karier sekaligus ibu rumah tangga. Dari random sampling terhadap teman-teman saya, hanya 2 dari 10 wanita pekerja yang masih sempat berolahraga!

Wow, padahal anak-anak mereka hampir semuanya ikut aktivitas olahraga di sekolah. Dari berbagai referensi, ibu adalah penentu kegiatan ekstrakurikuler seorang anak!

Kondisi ini tidak boleh dibiarkan dan dianggap enteng. Soalnya sebagai influencer, wanita memegang kunci terhadap kelangsungan regenerasi atlet Indonesia. Serius tidaknya seorang anak berkarier di olahraga sangat tergantung apa kata ibu.

Jadi, ketika sosok seperti Susy atau Elizabeth kembali ke lapangan, kita harus acungkan jempol. Bahkan jika perlu berlomba-lomba memberikan bantuan agar ia tambah kaya ilmu manajemen, psikologi, dan pedagogi dalam mendampingi para juniornya. Figur-figur wanita lain pun harus berani dimunculkan.

Wanita yang mau berkarier sebagai pelatih nasional juga harus didukung penuh, jangan malah dihambat. Ada loh kelebihan mendasar mereka daripada pria, yakni naluri melayani orang lain secara total. Itulah bagian dari kodrat wanita yang membedakannya dengan pria, percaya deh. eko@bolanews.com

Leave a comment

Filed under Artikel BOLA, My Opinion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s