Football-business: Stadion, Bisnis, dan Profesionalisme

AC Milan dan Chelsea menggapai trofi idaman di stadion penuh keagungan. Kemenangan 2-1 Milan atas Liverpool pada final Piala Champion 2007, Kamis (24/5) diperoleh di Stadion Olimpiade Athena, Yunani. Pembangunan stadion bernama lain Spiridon ’Spiros’ Louis itu kabarnya memakan biaya sekitar 260 juta euro untuk biaya konstruksi saja.

Lain halnya dengan Chelsea. Biarpun diolok-olok sebagai perebutan ’medali perunggu Liga Champion’ kemenangan Chelsea 1-0 pada Final Piala FA 2007, Sabtu (19/5) atas Manchester United sangat menggetarkan hati. Sebab Chelsea meraih trofi di stadion keramat Wembley pasca renovasi yang biayanya mencapai Rp 10 triliun. Hebatnya lagi, Chelsea merebut gelar FA terakhir kali di Old Wembley (2000) lewat gol tunggal Roberto Di Matteo, dan kiri di New Wembley lewat sontekan Didier Drogba.

Menyeberang ke AS, di sana ada football versi Amerika yang dinamai American Football. Bisnis American Football ini fantastis. Dari data 2006 Sports Market Handbook, fans rela membelanjakan uang untuk membeli tiket (Fan Cost Index/FCI) sebesar US$ 329,82. Rataan penonton per gim di atas 65 ribu orang.

NFL, liga profesional American Football, melansir Final 2011 (final NFL biasa disebut dengan Super Bowl) di stadion masa depan Dallas Cowboys di kawasan Texas Utara. Dallas Cowboys sukses mengalahkan bidding dari Indianapolis dan Glendale. Emangnya stadionnya sudah ada kok bisa menang bidding?

Stadionnya belum ada namun itulah kehebatan presentasi pemilik Cowboys, Jerry Jones, di depan para pemilik klub NFL, akhir bulan Mei di Nashville, Tennessee. ”NFL bisa menjual 100 ribu tiket di stadion baru kami. Juga tambahan 20 ribu tiket di standing room,” ungkap Jones. Kontan saja bidder lain, Indianapolis mental sebab mereka hanya bisa menjanjikan maksimal 70 ribu penonton live di stadion. Belum lagi Jones mengestimasi bahwa tahun 2009 stadionnya siap dipakai!

Harga tiket Superbowl saat ini US$ 600 (Rp 5,4 juta). Pada tahun 2011, harga normal mencapai US$ 800. Jadi, pendapatan bisa mencapai US$ 80 juta (720 miliar rupiah) dari tiket saja.

Loyalitas Fans
Ada sebuah cerita yang saya kutip dari buku karangan Phil Schaaf berjudul Sports Marketing: It’s Not Just a Game Anymore. Seorang pria paruh baya berjalan di kawasan Bellflower di kawasan Los Angeles. Ia masuk ke sebuah bank bernama Great Western Bank. Di kawasan itu berjajar banyak bank.

Si pria paruh baya minta bertemu dengan manajer pemasaran secara langsung. Alasannya, ia akan menabung uang cukup banyak dan juga membuka rekening baru. “Selamat datang di bank kami,” ungkap si manajer. “Anda terlihat masih terlalu muda untuk pensiun lantas menyimpan seluruh uang milik Anda,” kata si manajer mencoba berempati dengan si customer.

“Ya. Kebetulan saya baru saja menang lotere. Saya juga ingin menyimpan seluruh uang saya di bank ini,” ucap si customer.“Pak, Anda pasti melewati sedikitnya enam bank sebelum sampai ke bank kami. Apa alasan Anda melewatkan keenam bank itu lantas menyimpan seluruh uang Anda di bank kami?” tanya si manajer lebih detil.

“Saya adalah fans berat LA Lakers sepanjang hidup,” ungkap sang milioner baru. “Great Western Bank mensponsori tim basket Lakers dengan memasang nama di stadion Lakers (Great Western Forum di Inglewood, sekarang Lakers sudah pindah ke Staples Center di downtown Los Angeles). Itulah alasan saya mengapa saya memilih menyimpan uang saya di bank ini,” ucap si pria kaya itu.

Dalam jurnal pemasaran olahraga berjudul Names in Lights: Corporate Purchase of Sport Facility Naming Rights, Larry McCarthy dan Richard Irwin mengatakan bahwa simbiosis mutualisme antara Great Western Bank dengan LA Lakers dan LA Kings pada 1987 adalah yang pertama kali dilakukan antara swasta dengan klub olahraga profesional. Dalam kerjasama itu, perusahaan swasta berusaha mendapatkan keuntungan dari pembelian hak penamaan stadion.

Segitiga Sama Sisi
Dalam terminologi matematika, Anda pasti tahu bahwa segitiga sama sisi itu memiliki tiga sudut yang sama besar. Dalam pemasaran olahraga, stadion, penonton, dan sponsor juga memiliki kekuatan sama besar.Tanpa adanya potensi penonton, mustahil stadion Olimpiade Athena, the New Wembley, atau Dallas Cowboys dibangun. Stadion dibangun karena memenuhi demand menonton yang tinggi dan pertimbangan keuntungan tentunya. Bagi sponsor, mereka berharap brand asosiasi yang dibeli lewat sponsorship penamaan stadion akan berbalik sebagai intangible asset. Fans akan mengingat produknya saat melakukan pertimbangan pembelian sebuah produk.

Bagi pemerintah setempat, selain sebagai pemenuhan fasilitas olahraga masyarakat seperti yang diamanatkan UNESCO dan Komite Olimpiade Internasional (IOC), stadion juga bisa menjadi landmark kota bahkan negara. Landmark yang berpotensi menjadi ’alat propaganda’ industrialisasi olahraga sebuah negara. Stamford Bridge, Anfield, Old Trafford, San Siro adalah nama-nama stadion yang tidak asing bagi kita – meskipun mungkin melihat langsung pun belum pernah – akibat propaganda via tayangan layar kaca atau media cetak.

Dalam bagan industri olahraga yang saya sadur dari buku Economic of Sports and Recreation (2000) karangan karangan Chris Gratton dan Peter Taylor terlihat pentingnya stadion sebagai sports services. Sport sponsorship juga berada satu lengan dalam sports services.

Sayangnya, untuk urusan penamaan stadion dan memaksimalkan stadion, Indonesia harus diakui masih terbelakang dibandingkan Malaysia, Singapura, dan Thailand. Buruknya kualitas prasarana olahraga juga menjadi kendala. Misalnya, kondisi lapangan rumput stadion sepakbola, permukaan lapangan basket bukan kayu, penerangan, kenyamanan penonton, WC dan kamar ganti, lampu, dll. Pencahayaan lampu juga bagian penting dari kemasan untuk menjual olahraga.

Sebenarnya uang untuk sponsorship itu ada. Simaklah data Nielsen Media Research – Advertising Information Services 2007. Jumlah belanja iklan pada 2007 mencapai Rp 33,2 triliun. Produk perlengkapan komunikasi dan servis mengeluarkan dana terbesar.

Uang iklan memang jumlahnya besar namun oleh si pemilik harus dibelanjakan dengan efisien. Jangan berharap ada pengiklan yang mau membelanjakan anggaran iklan untuk donasi atau atas dasar belas kasihan. Semua pengiklan telah memiliki ukuran-ukuran baku dan profesional untuk melakukan sponsorship, termasuk pada olahraga.Jadi, kalau mau dapat sponsorship ya mesti memprofesionalkan diri sendiri dulu. Mau? eko@bolanews.com

Leave a comment

Filed under Artikel BOLA, My Opinion, Pemasaran Olah Raga, Tahukah Anda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s