Peran Vital Mata dalam Olahraga – Happy Surprise, Your Future Will Rise

Pendahuluan
Mata adalah jendela hati. Lewat mata segala keindahan bisa dinikmati. Lewat mata bisa diketahui suasana hati, entah sedang gundah atau riang gembira.

Mata kita amat peka terhadap benda atau polusi lingkungan. Seringkali kita membiarkan mata menjadi lelah, terkena sinar matahari secara langsung, dan kadang membersihkannya menggunakan sembarang air sehingga mudah terinfeksi. Penggunaan obat-obatan secara serampangan juga dapat memperparah infeksi mata.

Saat terserang kotoran atau benda asing, mata melakukan refleks pertahanan dengan berkedip. Selain berkedip, mata pun melakukan mekanisme perlindungan terhadap benda asing dari luar dengan cara memproduksi cairan di sekitar bola mata melalui kelenjar mata. Berkedip juga merupakan cara pertahanan agar tetap segar dan tidak cepat lelah.

Apakah olahraga itu? Olahraga berasal dari bahasa Inggris Kuno, disportate, yang berarti bersenang-senang atau mengisi waktu luang bagi para kaum ningrat Inggris. Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 3 tahun 2005 mengenai Sistem Keolahragaan Nasional didefinisikan bahwa olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial.

Dalam GBHN, peran dan fungsi olahraga dalam tata masyarakat Indonesia sudah jelas, yaitu pertama, olahraga merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia yaitu mencakup jasmani, mental, dan rohani. Olahraga juga ditujukan untuk pembentukan watak dan kepribadian, disiplin, dan sportivitas yang tinggi serta peningkatan prestasi yang dapat membangkitkan rasa kebanggaan nasional.

Apa hubungan antara mata dengan olahraga? Subjek dalam olahraga prestasi adalah atlet. Agar dapat mengembangkan potensi jasmaninya guna mendapatkan prestasi maksimal, atlet mutlak harus memiliki kondisi fisik dan jasmani yang prima, salah satunya adalah mata.

Ada cabang olahraga yang sangat mengandalkan ketajaman mata yakni bulutangkis, tenis meja, tenis lapangan, panahan, menembak, bola basket, dan bisbol. Dalam bulutangkis, dengan menggunakan mata yang tajam, seorang pebulutangkis bisa menganalisis arah bola yang dipukul lawan lewat gerakan bahu, ayunan tangan, hingga pergelangan tangan. Di tenis meja, bentuk pukulan dari bet lawan bisa dari sudut pegangan tangan maupun dari sudut kontak antara bet dengan bola. Pergerakan bola yang sangat cepat dalam ping pong memerlukan ketajaman mata yang prima.

Peran Mata di Olahraga
Mata adalah bagian penting dalam olahraga. Agar bisa sukses, seorang atlet mesti bisa memaksimalkan kemampuan visualnya (visual skill) untuk ekstraksi berbagai informasi dari objek, tempat, dan event pertandingan. Dalam sebuah pertandingan, seusai menerima respons di retina, seorang atlet mesti segera mengambil keputusan atau tindakan. Seorang bek dalam sepakbola misalnya. Ia mesti segera memutuskan apakah akan mengejar lawan, melakukan tekel, ataukah minta bantuan teman terdekat ketika lawan berhasil merebut bola darinya.

Keterampilan visual (visual skill) atlet meliputi acuity, akomodasi mata, central field awareness, peripheral field awareness, daya jelajah mata (eye tracking), kedalaman persepsi (depth perception), koordinasi mata-tangan-kaki, visualisasi, dan memori visual (Zumerchik, 1997). Untuk acuity, dua hal yang terpenting adalah kemampuan mata mendeteksi benda diam (static) maupun benda yang bergerak (dynamic). Keterampilan ini juga berhubungan dengan reaksi mata.

Kemampuan akomodasi mata dalam olahraga adalah kecepatan mengubah fokus dari objek yang satu kepada objek yang lain. Central field awareness adalah kemampuan melihat benda yang ada di depan mata. Kemampuan ini diperlukan oleh seorang petenis dan seorang shooter dalam bola basket. Peripheral field awareness adalah kemampuan melihat di luar sudut mata. Seorang playmaker dalam bola basket biasanya memiliki kemampuan ini sehingga ia bisa melihat posisi rekannya meskipun berada tidak dalam radius sudut mata.

Daya jelajah mata (eye tracking) adalah kemampuan mengikuti objek yang bergerak cepat. Dalam olahraga tenis dan tenis meja, kemampuan jelajah mata yang tinggi akan memudahkannya membaca gerakan bola lawan dan bisa mengantisipasi pengembaliannya (returning).

Olahraga adalah salah satu aktivitas fisik dan rekreasi terpopuler di seluruh dunia. Namun, olahraga juga mencatat sebagai salah satu penyebab terbanyak terjadinya cedera mata. Cabang olahraga yang memiliki peringkat tertinggi terjadinya cedera adalah bola basket, olahraga air (water sports), bisbol, dan olahraga menggunakan raket.

Simaklah data ini. Di Amerika, dalam setahun terjadi kunjungan ke ahli mata sebanyak 100.000 kasus dengan total biaya mencapai US$ 175 juta atau sekitar Rp 1,61 triliun (Napier et. al., 1996).

Napier et. al. dalam kesimpulan penelitiannya juga mengatakan bahwa penyebab terbanyak cedera mata adalah tergores (abrasion) dan luka memar (contusion). Ada tiga klasifikasi dalam olahraga yang berpotensi menyebabkan cedera yakni risiko rendah, risiko tinggi, dan risiko sangat tinggi (very high risk). Rodriguez et. al. (2003) menyebutkan bahwa penyebab cedera mata adalah akibat benda tumpul (blunt), tusukan benda tajam (penetrating), dan radiasi (radiation injuries).

Contoh blunt trauma adalah bisbol. Pemukul (batter) berhasil membuat pukulan (hit) di mana lintasan bola mengarah ke muka dan atlet yang bersangkutan tidak sempat menghindarkan bola sehingga terkena mata. Cedera yang timbul akibat trauma ini adalah memar di sekitar mata yang diistilahkan black eye dan retak tulang di sekitar mata. Ancaman yang ditimbulkan adalah kehilangan penglihatan secara permanen.

Berolahraga di salju berpeluang terjadi radiation injuries yang sering disebut dengan buta salju (snow blindness). The University of Maryland School of Medicine mengategorikannya sebagai mata yang terbakar matahari (eye sunburn) dimana sinar matahari yang terlalu kuat diterima di bagian kornea. Konsekuensi yang ditimbulkan adalah kerusakan mata maupun penurunan penglihatan.

Sementara itu, penetrating injury terjadi ketika benda tajam langsung menyentuh mata. Di olahraga rugbi, sepakbola, bola basket, dan beladiri, cedera seperti ini sering terjadi. Ancaman yang ditimbulkan juga bermacam-macam mulai dari penurunan penglihatan hingga kebutaan.
Dari data The United States Eye Injury Registry for 1988-2000, 40% terjadinya cedera mata terbanyak terjadi di rumah (40%). Tiga tempat yang sering menyebabkan terjadinya cedera mata adalah di pabrik-pabrik, jalan raya, dan olahraga, masing-masing dengan persentase 13%. Penyebabnya 31% benda tumpul, 18% benda tajam, dan 9% tabrakan motor.

Selain faktor dari luar, cedera mata juga bisa disebabkan karena faktor dari dalam (intrinsik). Penggemar sepakbola internasional pasti mengenal Edgar Davids. Mantan bintang Juventus yang kini bermain untuk Ajax Amsterdam (Belanda) ini memiliki ciri khas pekerja keras, pantang menyerah, dan berkacamata di setiap pertandingan. Kacamata menjadi bagian penting bagi karier Davids sebab ia menderita penyakit mata glaukoma akut.

Glaukoma akut yang diderita Davids adalah terjadinya bular hijau pada mata karena cairan bening kornea dan lensa mata tertahan sehingga ia harus menjalani operasi di kedua matanya. Inilah sebabnya Davids memerlukan kacamata sebagai pelindung dari kotoran dan gangguan eksternal. FIFA, induk organisasi sepakbola internasional memberikan izin asalkan alat itu berbahan plastik dan tidak membahayakan atlet lain.

Alat Pelindung
American Academy of Pediatrics dan American Adacemy of Ophthalmology merekomendasikan bahwa pelindung mata harus digunakan, terutama di olahraga yang berpeluang menimbulkan cedera. Pelindung wajib dipakai bagi atlet yang pernah dioperasi atau mengalami trauma. Peran orangtua juga penting saat memilih alat pelindung yang memenuhi syarat. Pelatih juga berperan dalam mengajarkan bagaimana mencegah cedera mata, baik di pertandingan maupun latihan.

Napier et. al. (1996) mengatakan bahwa ada dua jenis pelindung mata yang sering digunakan dan memenuhi standar. Pertama, kacamata yang memenuhi standar ASTM (American Society of Testing and Materials) F803 untuk cabang olahraga seperti olahraga raket, bisbol, basket, lacrosse, dan hoki lapangan. Kedua, helm dan pelindung mata yang memenuhi standar ASTM F910 untuk pemukul dan penjaga base di bisbol.ASTM standar 1776 untuk paintball, ASTM standar 659 untuk ski es, dan ASTM standar F513 untuk hoki es.

Pelindung mata disarankan terbuat dari bahan polikarbonat. Tidak disarankan untuk memakai kacamata fashion, kacamata, maupun sunglasses normal saat berolahraga.

Cegah Lewat Pengetahuan
Ancaman cedera mata bisa dicegah lewat pencegahan. Atlet sebaiknya diajari bagaimana melindungi mata dari kemungkinan cedera akibat latihan maupun pertandingan. Atlet pun mesti memahami penggunakan pelindung kulit muka atau produk kosmetika lain yang berpeluang menyebabkan cedera.

Tiga puluh persen cedera mata pada anak-anak di bawah 16 tahun berhubungan dengan aktivitas olahraga. Olahraga yang paling banyak menyebabkan cedera adalah bola basket, olahraga air, bisbol, dan olahraga menggunakan raket (tenis,bulutangkis, skuas). Pada anak-anak usia 5-14 tahun, cabang olahraga yang paling banyak menyebabkan cedera adalah bisbol. Untuk usia 15-64 tahun, cabang olahraga yang dominan menyebabkan cedera mata adalah bola basket (Rodriguez et. al., 2003:2).

Hal penting yang harus dipahami oleh seorang atlet adalah melatih koordinasi antara mata dan tangan (eye-hand coordination). Latihan ini berguna untuk efektivitas tangan dan mata mengantisipasi gerakan bola, seperti reaksi tangan menangkap bola yang mengarah padanya. Latihan ini berhubungan dengan aktivitas motorik (motor skills) seseorang. Sejak dini, kemampuan motor skills harus dilatih.

Dalam tabel berikut dapat dibandingkan kecepatan antara peralatan olahraga dengan peluru seberat 16 pound (7,3 kg).

American Family Physician melaporkan pada 2002 bahwa 6,4% anak-anak di sekolah public memiliki kekakuan signifikan (significant clumsiness). Indikasi yang muncul adalah rendahkan koordinasi antara mata dengan tangan sehingga sering terjadi bola yang mengarah ke anak yang bersangkutan sulit diantisipasi dan ditangkap. Penelitian itu merekomendasi bahwa partisipasi aktif anak-anak di olahraga akan meningkatkan motor skills dan meningkatkan rasa percaya diri.

Keterampilan neomuskuler atau motorik adalah keterampilan yang dapat dipelajari untuk suatu kinerja yang efisien, konsisten, dan aman. Memahami dan memiliki sikap positif terhadap keterampilan motorik sangat membantu siswa membangun sifat kegemaran sepanjang hayat (lifelong) dalam aktivitas fisik, termasuk di dalamnya olahraga. Siswa perlu mengenal rentangan luas dari keterampilan motorik, memiliki waktu untuk belajar, berlatih, menghaluskan, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ia akan mendapatkan kegembiraan (happiness) yang diperoleh dengan menggunakan tubuhnya secara aman dan efisien.

Guru sebaiknya membuat siswa bisa memahami bagaimana keterampilan gerak diperoleh. Siswa, dalam aktivitas olahraga dan pendidikan jasmani, seharusnya menguasai tiga hal yang bisa menghindarkannya dari cedera, termasuk cedera mata, yakni dengan:
1.Menguasai keterampilan lokomotor dari berjalan, berlari, lompat, berjingkat, dan loncat.
2.Menguasai keterampilan non-lokomotor dari membungkuk, merentang, mengayun, dan berputar.
3.Menguasai keterampilan manipulasi dari memukul, menangkap, menendang, dan melempar.

Asosiasi Medis Amerika (The American Medical Association) mengklasifikasikan olahraga menjadi tiga jenis berdasarkan terjadinya kontak badan, yakni berbenturan frontal (collision), bersentuhan (contact), dan tanpa kontak badan. Cabang olahraga yang masuk kategori berbenturan frontal adalah american football, hoki es, dan lacrosse. Dalam olahraga kategori ini, pelindung mata mutlak diperlukan. Yang masuk kategori contact adalah bisbol, sepakbola, bola basket, dan gulat. Beberapa cabang olahraga tanpa kontak tubuh adalah renang, atletik, menembak, tenis, tenis meja, dan bulutangkis.

Klasifikasi lain yang dibuat adalah risiko rendah, risiko tinggi, dan risiko sangat tinggi (very high risk). Risiko rendah tak menggunakan bola, raket, stik, dll. dan tak ada kontak badan. Cabang olahraga yang masuk kategori ini adalah atletik, renang, senam, dan balap sepeda.

Olahraga dengan risiko tinggi (high risk) menggunakan bola, raket, puck, pemukul (bet), stik, maupun raket. Juga bisa terjadi kontak badan di cabang olahraga ini. Contoh cabang dengan high risk adalah bisbol, hoki es, sepakbola, basket, lacrosse, tenis, bulutangkis, dan polo air. Sedangkan olahraga very high risk terjadinya cedera mata adalah tinju, gulat, dan beladiri kontak langsung.

Semakin minim terjadi kontak tubuh, kemungkinan cedera mata semakin berkurang. Namun, olahraga raket seperti tenis dan bulutangkis memiliki perkecualian. Laju yang cepat dari bola tenis dan shuttlecock (bisa di atas 100 km/jam) berpeluang menyebabkan cedera mata jika si atlet tidak memiliki pengetahuan yang mendalam cara menghindari bola atau shuttlecock yang mengarah ke mata.

Kemampuan mata harus dilatih. (Zumerchik, 1997: 904) menyarankan empat hal yang harus dilakukan untuk melatih kemampuan visual mata, yakni:
1. Pertahankan efektivitas latihan. Buatlah level latihan sedemikian rupa sehingga meminimalkan rasa frustrasi seorang atlet.
2. Gunakan latihan penguatan yang positif. Latihan ini membuat atlet memahami bagaimana cara kerja sistem visual yang akan meningkatkan performanya.
3. Aturlah secara spesifik, namun fleksibel mengenai tujuan latihan sehingga atlet bisa menyesuaikan kemampuan yang dimiliki dengan target yang dibebankan.
4. Untuk memaintain konsentrasi atlet, pelatih fisik harus secara kontinu memberikan umpan balik (feed back).

Cara terbaik adalah mencegah terjadinya cedera mata lewat pemahaman berbagai hal seperti:
1. Jagalah mata saat berada di rumah, lapangan, maupun di mobil. Waspada terhadap barang-barang keras dan tajam yang ada di sekitar kita.
2. Membiasakan mencuci tangan setelah melakukan apa saja, apalagi seusai kontak dengan bahan-bahan kimia.
3. Menghindarkan mata dari debu dan secara teratur menggunakan obat tetes mata untuk menyegarkan mata.
4. Waspada terhadap kuku tangan, khususnya pada anak-anak balita.

Selain mencegah terjadinya cedera mata, perlu diperhatikan menjaga kesehatan mata antara lain dengan:
1. Sering mengedipkan mata untuk mengurangi ketegangan mata dan mencegah mata kering.
2. Cukup tidur, istirahat, dan relaksasi.
3. Gunakan kacamata jika pergi ke tempat dengan sinar matahari sangat terang.
4. Hindari tempat yang berdebu.
5. Makan makanan dan sayuran yang bergizi dan bagus untuk mata.
6. Cahaya yang cukup saat membaca.
7. Jangan mengucek langsung mata menggunakan tangan. Gunakan tisu atau kain halus yang cukup steril.
8. Gunakan obat tetes mata yang cocok dan hindari kontak langsung dengan matahari, AC, maupun asap rokok.
9. Tidak membiasakan membaca sambil tiduran

Kesimpulan
Mata adalah organ penting bagi atlet olahraga. Memiliki mata yang sehat dan skill di atas rata-rata berkorelasi dengan prestasi yang mengkilap. Namun, untuk mendapatkan prestasi mengkilap, diperlukan latihan yang keras, teratur, dan terprogram. Dalam fase persiapan dan pertandingan itulah kemungkinan terjadinya cedera mata besar.

Diperlukan pemahaman dan kemampuan motorik untuk bisa mencegah terjadinya cedera sedini mungkin. Saat cedera mata mendera, diperlukan alat bantu yang bisa mencegah terjadinya cedera setelah pemulihan.

Jika segala pencegahan cedera telah dilakukan maka kejutan kegembiraan akan datang. Happy surprise, your future will rise.



Daftar Pustaka
________. What is Eye Hand Coordination. http://vision.about.com/od/ sportsvisioncare/f/eyehand.htm

Ade Hikmatulah. 2006. Pentingnya Mata Sehat dan Alami. http://www.humanmedicine.net/

Ateng, Abdulkadir, Prof. 2003. Olahraga di Sekolah dalam buku Perkembangan Olahraga Terkini Kajian Para Pakar editor Prof Dr. H. Harsuki, MA. PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Baptiste, Andre P. 2003. Player with Glasses in Football. (http://www.andrebaptiste.com/dbarticles/2003/sept.html#sept2103b)

Bompa, Tudor O. 1999. Periodization: Theory and Methodology of Training. Human Kinetics, USA

Fortin, Francois. 2000. Sports: The Complete Visual Reference. Firely Books Ltd, Canada.

Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993-1998

Hutagalung, Weshley. Edgar Davids: Bukan Sekadar Troublemaker. Tabloid BOLA edisi Selasa 17 September 2002, halaman XX

It’s In Your Court: Prevent Sports-Related Eye Injuries. (http://uniteforsight/. org/eyesafety/)

Rodriguez, Jorge O., Lavina, Adrian M., Agarwal, Anita. 2003. Prevention and Treatment of Common Eye Injuries in Sports. Am Fam Physician 2003;67:1481-8,1494-6. Copyright© 2003 American Academy of Family Physicians

SM Napier, RS Baker, DG Sanford, M Easterbrook. 1996. Eye injuries in athletics and recreation. Surv Ophthalmol. 1996 Nov-Dec; 41(3):229-44

United States Eye Injury Registry. 2000. Eye Trauma Epidemiology and Prevention: “Place of Eye Injury” data slide. http://www.useironline.org/Prevention.htm

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Indonesia.

Zumerchik, John. 1997. Encyclopedia of Sports Science volume 2. Simon and Schuster MacMillan, New York, USA

2 Comments

Filed under My Opinion, Sports Science, Tahukah Anda

2 responses to “Peran Vital Mata dalam Olahraga – Happy Surprise, Your Future Will Rise

  1. Tarsisius

    Dos pundi kabaripun Mas Eko Widodo ?
    Punapa panjenengan taksih kemutan kaliyan kawula ?
    Kawula Toro
    ex- Bola (Artistik) tahun 95 aseli saking Ngayogyakarta hadiningrat. sakmeniko kawula makarya wonten Semarang. Salam kagem sadaya rencang kadosta Mas Steve, Mas Yoko, Bang Sam, Acem, Ahenk, Dwi, Mas Broto lsp.

    Toro
    maswintoro@yahoo.com

  2. ainul ridha, the nice seen

    Bung Eko,
    Aku coba mendapatkan tanggapan dan masukan atas ide aku yang ditulis di blog ke dalam detik forum dan kaskus forum. Ternyata banyak tanggapan yang konstruktif.

    Bisa dibaca di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1084895 atau http://forum.detik.com/showthread.php?t=55703. Bisa dilihat di thread tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s